03

BAB 2

Materi  yang dlpelajari pada Bab 2 tentang sejarah

  1. Sejarah sebagai llmu
  2. Sejarah sebagai peritiwa
  3. Sejara sebagai kisah
  4. Sejarah sebagai seni

lndikator Pembelajaran

  1. Menganalisis sejarah sebagai ilmu, peristiwa, kisah, dan seni.
    2. Mendeskripsikan sejarah sebagai ilmu, peristiwa, kisah, dan seni.
    3. Menyajikan hasil telaah tentang sejarah sebagai ilmu, peristiwa, kisah, dan seni dalam bentuk tulisan.
    4. Memberikan contoh sejarah sebagai ilmu, peristiwa, kisah, dan seni.Materi Pembelajaran

 

  1. Sejarah sebagai llmu

Sejarah sebagai ilmu adalah suatu susunan pengetahuan (a body of knowledge) tentang peristiwa dan cerita yang terjadi dalam masyarakat manusia pada masa lalu yang disusun secara Sistematis dan metodis berdasarkan asas-asas, prosedur, dan metode, serta  teknik ilmiah yang diakui oleh para pakar seJarah (sejarawan).

Dalam buku sejarah, termuat beragam pengetahuan. Keberadaan buku sejarah dalam mata pelajaran di sekolah menunjukkan pentingnya kedudukan sejarah sebagai ilmu.

  1. Pengertian Sejarah

Dalam bahasa Inggris, sejarah dlsebut history. Kata history berasal dan bahasa Yunani, historic yang art‘mya ilmu. Dalam bahasa Jerman, sejarah disebut geschlchte yang berarti sesuatu yang telah tenadl. Kedua kata itu dapat memberikan arti yang sesungguhnya tentang sejarah, yaitu  sesuatu yang telah terjadi dalam kehidupan umat manus1a di masa lalu.

Para ahli menjelaskan defenisi sejarah berdasarkan rasa ingin tahu terhadap llmu sejarah.  Untuk mengetahui  beberapa pengertian sejarah menurut pendapat para ahli, mari perhatlkan uraian berikut.

1) Sartono Kartodirdjo, sejarawan Indonesia, berpendapat bahwa sejarah mempunyai dua pengertian. Pertama, sejarah dalam arti objektif memjuk pada kejadian atau peristiwa yang dapat ditunjukkan dengan bukti-bukti yang memiliki kebenaran objektif. Kedua, sejarah dalam arti subjektif berarti suatu konstruksi, yaitu bangunan yang disusun penulis sebagai suatu uraian atau cerita.

2) Kuntowijoyo. sejarawan Indonesia, menjelaskan bahwa sejarah menyuguhkan fakta secara diakronis, ideografis, unik, dan empiris.

3) Herodotus, tokoh yang dikenal sebagai Bapak Sejarah, menjelaskan sejarah adalah satu kajian yang menceritakan suatu perputaran jatuh bangunnya seorang tokoh, masyarakat, dan peradaban.


Sejarawan Herodotus

4) Ibnu Khaldun, ahli filsafat dari Tunisia, mendefinisikan sejarah sebagai catatan tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia dan perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat.

Sejarawan Ibnu Kholdun

 

b. Ciri-ciri Sejarah sebagai Ilmu

Sebagai ilmu, sejarah memiliki beberapa ciri atau kriteria tertentu. Menurut Kuntowijoyo, dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah (2005: 20), sejarah sebagai ilmu memiliki ciri dan karakteristik sebagai berikut.

1) Bersifat Empiris

Sejarah bersifat empiris karena berdasarkan pada pengamatan dan pengalaman manusia. Dalam hal ini, ilmu sejarah sama dengan ilmu alam karena sama-sama berdasarkan pengalaman,
pengamatan, dan penyerapan.

2) Mempunyai Teori Sejarah memiliki teori ilmu

pengetahuan (epistemologi) yang memberikan dasar bagi kaidah-kaidah penelitian sejarah. Teori dalam sejarah antara lain teori tentang nasionalisme teori geopolxtik, teori struktural fungsional, teori konflik sosial Karl Marx, dan teori Future Shock Alfin Tofler Ketika sejarawan hendak mengadakan rekonstruksi sejarah, ia harus memahami teori teori yang terkait dengan kajiannya
seperti kausalitas, eksplanasi, Objektivitas, dan dan subjektivitas sejarah.

3) Mempunyai  Objek

Objek kajian sejarah sebagai ilmu adalah manusia dan masyarakat dalam sudut pandang waktu. Artinya. objek yang diteliti dan dianalisis sejarawan berkaitan dengan peristiwa yang menyangkut  dimensi kemasyarakatan atau kebangsaan pada masa lampau.

4) MempunyaiGeneralisasi Sebuah penelitian tentu akan diakhiri dengan kesimpulan umum atau generalisasi. Sama seperti ilmu lain, sejarah sebagai ilmu juga menarik kesimpulan-kesimpulan umum. Kesimpulan umum dalam sejarah diperoleh setelah sejarawan melakukan  serangkaian penelitian dan rekonstruksi sejarah.

5) Mempunyai Metode  Dalam rangka penelitian, sejarah mempunyai metode tersendiri yang disebut metode sejarah. Oleh karena itu, dalam memahami suatu realitas, sejarawan memiliki kaidah-kaidah teoretis tersendiri yang harus selalu dipegang teguh.

  1. Manfaat Sejarah sebagai Ilmu

Menurut Kuntowijoyo, sebagai manusia kita harus belajar sejarah karena setidaknya kita akan mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang berharga dari sebuah peristiwa. Sejarah sebagai ilmu juga memiliki manfaat sebagai berikut.

1) Manfaat lntrinsik

Secara intrinsik, sejarah memiliki beragam manfaat berkaitan dengan kedudukannya sebagai ilmu. Manfaat intrinsik sejarah antara lain sejarah sebagai cara untuk mengetahui masa lalu, sejarah sebagai pemyataan pendapat, dan sejarah sebagai profesi.

2) Manfaat Ekstrinsik

Sejarah menyimpan banyak pelajaran dan pengalaman bermakna bagi kehidupan manusia. Manfaat ekstrinsik sejarah antara lain sejarah sebagai pendidikan moral, sejarah sebagai pendidikan penalaran, sejarah sebagai pendidikan politik, sejarah sebagai pendidikan kebijakan, sejarah sebagai pendidikan pembahan, sejarah sebagai pendidikan masa depan, sejarah sebagai pendidikan keindahan, dan sejarah sebagai ilmu bantu.

  1. Fungsi Sejarah sebagai lImu

Selain memiliki manfaat, sejarah sebagai ilmu memiliki fungsi panting bagi kehidupan manusia. Berikut fungsi sejarah sebagai ilmu.

1) Fungsi Rekreatif

Dengan sejarah, kita dapat mengetahui kehidupan masyarakat pada masa lampau. Oleh karena itu, sejarah dapat menjadi sarana rekreasx ke masa lampau.

2) Fungsi Inspiratif

Dengan fungsi inspiratif, sejarah dapat memperkuat identltas bangsa (nation building) dan meningkatkan dedlkasi sebuah bangsa untuk berjuang

3) Fungsi Instruktif

Sejarah memiliki fungsi instruktif artinya sejarah dapat digunakan sebagai penunjang dalam proses pembelajaran.

  • Sejarah sebagai PeristiwaSejarah sebagai peristiwa adalah kejadian atau kenyataan yang sebenarya telah terjadi atau berlangsung pada masa lalu. Jadi, sejarah sebagai peristiwa tidak mungkin terulang lagi (einmalig artinya terjadi sekali saja). Dengan kata Iain, sejarah sebagai peristiwa hanya sekali terjadi. Contohnya, peristiwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
  • Pidato Teks Proklamasi

a. Syarat Sejarah sebagai Peristiwa Peristiwa yang terjadi pada masa lampau dapat dikategorikan sebagai  peristiwa sejarah jika memenuhi syarat berikut.

1) Objektif, artinya sebuah peristiwa didukung oleh fakta sejarah yang dapat menunjukkan bahwa penstxwa tersebut benar-benar terjadi. Jadi, peristiwa sejarah bukan peristiwa rekaan atau hasil imajinasi, dan dibuktikan misalnya dalam bentuk foto, rekaman, kesaksian pelaku sejarah, atau arsip.
2) Unik. artinya peristiwa itu hanya terjadi satu kali. tidak bisa diulang. dan tidak ada lagi peristiwa lain yang persis sama dengan peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu itu.
3) Penting, artinya setiap peristiwa memiliki arti penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan serta kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

b. Ciri-ciri Sejarah sebagai Peristiwa Sebagai sebuah peristiwa, sejarah  memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1) Abadi, karena peristiwa tersebut tidak dapat berubah-ubah dan tetap dikenang sepanjang masa.
2) Unik, karena hanya terjadi sekali seumur hidup dan tidak akan pema terulang secara persis untuk kedua kalinya.
3) Penting, karena dapat dijadikan momentum yang memiliki arti panting bagi masyarakat luas. Selain itu, sejarah sebagai peristiwa juga memiliki sifat khas. Berikut sifat khas sejarah sebagai peristiwa.

1) Segala peristiwa dan aktivitas yang tetjadi pada masa lalu dllukiskan berdasarkan urutan waktu (kronologis).
2) Terdapat hubungan sebab akibat atau kausalitas dari setiap penstiw

3) Kebenaran sejarah bersufat subjek karena masih perlu ddakukan penelitian leblh lamut untuk m kebenaran hakiki

3. Sejarah sebagai Kisah

Sejarah sebagai kisah maksudnya adalah sejarah berupa narasi yang disusun dari memori, kesan. atau tafsiran manusia terhadap peristiwa yang terjadi pada masa lalu, yaitu sejarah sebagai rerum gestarum atau menumt Mohammad Ali sejarah serba subjek. Sejarah itu suatu cerita sehingga sifatnya tergantung kepada siapa yang menceritakannya (bersifat subjektif).

Contoh sejarah sebagai kisah adalah Perlawanan Diponegoro (1831-1838), Perlawanan Pattimura (1817), dan perlawanan rakyat lainnya. Peristiwa hanya sekali atau proses tidak berkelanjutan. Hal ini disebut sejarah objektif atau sejarah sebagai peristiwa. Namun, kisahnya atau makna dari kisah tersebut dapat berulang-ulang atau ada proses berkelanjutan. Hal ini disebut sejarah subjektif atau sejarah sebagai kisah.

Ilustrasi Perlawanan Diponegoro

Dalam menyusun kisah sejarah, sejarawan memerlukan fakta-fakta dari sumber sejarah yang diperoleh melalui serangkaian metode sejarah sebagai berikut.

a. Interprestasi terhadap Sejarah  sebagai Kisah
Perbedaan interprestasi sejarawan dalam memandang suatu peristiwa disebabkan oleh faktor-faktor berikut.

1) Kepentingan Sejarawan memiliki kepentingan yang bersifat pribadi atau kelompok saat menuturkan kisah sejarah.
2) Kelompok Budaya
Perbedaan latar belakang dan kelompok sosial turut menyebabkan perbedaan dalam penulisan sejarah oleh sejarawan.
3) Perbendaharaan Pengetahuan
Pengetahuan yang dimiliki sejarawan meliputi fakta dan ilmu pengetahuan akan memengaruhi kisah sejarah.
4) Kemampuan Berbahasa Sejarawan harus mampu merekonstruksi fakta sejarah dan menyusunnya dalam bentuk cerita sejarah dengan bahasa yang mudah dipahami orang Iain.

5) Nilai-nilai

Nilai-nilai yang dimiliki sejarawan akan memengaruhi penuturan kisah sejarah. Nilai-nilai tersebut bersumber dari agama, moral, etika, dan nasionalisme.

b. Jenis-jenis Sejarah sebagai Kisah

Sejarah sebagai kisah dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis. Kuntowijoyo dalam buku Metodologi Sejarah (2003: 23-29) menjelaskan jenisjenis sejarah sebagai kisah seperti berikut.

1) Sejarah Politik

History is the past politic. Kalimat tersebut dikemukakan oleh sejarawan lnggris bernama Sir John Seeley. Menurutnya, sejak kemunculan \lmu sejarah, tema-tema politik senantiasa menjadi perhatian utama. Hal ini karena adanya pendapat bahwa sejarah pada masa lampau cenderung memandang aspek politik sebagai faktor penggerak yang mengubah perjalanan manusia.

2) Sejarah Ekonomi

Aktivitas manusia di bidang ekonomi menjadi fokus utama sejarah ekonomi. Dalam ilmu sejarah. kajian ekonomi dapat difokuskan pada periode kolonial Belanda karena periode tersebut berpengaruh besar dalam perekonomian Indonesia pada periode selanjutnya.

3) Sejarah Sosial
Cakupan sejarah sosial meliputi masalah yang berhubungan dengan perubahan sosial, tata nilai, agama, dan hadisi kebudayaan yang turut berpengaruh terhadap timbulnya masalah sosial. Sumbangan penting sejarawan senior Sartono Kartodirdjo dalam perkembangan sejarah di Indonesia adalah penggunaan interdisipliner, multidisipliner, multidimensional, atau  pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam kajian sejarah.

4) Sejarah Pemikiran (Intelektual)
Sejarah pemikiran mencakup studi tentang pemikiran-pemikiran besar yang memengaruhi masyarakat lapisan bawah

5) Sejarah Kebudayaan

Kajian sejarah kebudayaan difokuskan pada kehidupan bangsawan lengkap dengan simbol dan statusnya. Misalnya, kebiasaan makan, upacara tradisional, kepercayaan jimat, solidaritas, kesenian, dan hiburan, serta model pakaian.

6) Sejarah Teknologi
Sebagian masyarakat saat ini telah memanfaatkan teknologi smartphone sebagai alat komunikasi. Selain teknologi komunikasi, sejarah teknologi juga mengkaji mengenai perkembangan teknologi produksi dan transportasi.

7) Sejarah Pedesaan
Sejarah pedesaan merupakan sejarah-sejarah yang secara khusus meneliti tentang perdesaan, masyarakat petani, dan ekonomi pertanian.

  1. Sejarah sebagai Seni


Sebagai sebuah seni, sejarah mengutamakan nilai estetika. Seperti yang dikemukakan Wilhelm Dilthey, sejarah adalah pengetahuan tentang rasa. Sejarah sebagai seni berhubungan erat dengan cara penyampaian secara tertulis knsah sejarah itu Sejarah memerlukan intuisi dan imajmasi, melibatkan emosi serta menggunakan gaya bahasa yang khas

Terkadang penulisan sejarah sebagai seni tampak menjadi kurang ilmlah karena dominannya unsur-unsur keterlibatan emosi dan intuisi sejarawan Karena dalam penulisan sejarah keterlibatan itu semua tidak mengorbankan proses Ilmiah salah satu contoh karya seperti itu yaitu kitab Negarakertagama yang ditulis pada masa Kerajaan Singasari dan Majapahit ditulis dengan gaya sastra yang indah, namun tetap didasari fakta yang sebenamya.

 

 

Kitab Kertagama

  1. Unsur Sejarah Sebagai Seni

Sejarah sebagai Seni,  sejarah memerlukan unsur sebagai berikut ;

  • intuisi

Sejarawan memerlukan intuisi atau ilham dalam proses rekontruksi sejarah.

  • imajinasi
    Dalam merekonstruksi sejarah seJarawan harus mampu berimajinési tentang gambaran masa lampau. Pmaj:inasi sejarawan berbeda dengan Imajinasi sastrawan. Sejarawan harus mampu berimajinasi berdasarkan data sejarah, bukan berimajinasi secara liar tanpa pijakan yang jelas.
  • Emosi
    Sejarawan memerlukan emosi untuk menghasilkan sebuah karya sejarah yang mampu mengajak pembacanya menikmati petualangan intelektual.
  • Gaya Bahasa
    Gaya bahasa diperlukan karena sebuah tulisan sejarah akan dibaca oleh berbagai kalangan. Seja an hendaknya lugas atau tidak berbg galam . penyajian kisah sejar lsah sejarah mudah dipahami oleh pembaca.
  1. Kekuatan dan Kelemahan Sejarah sebagai Seni
    Sejarah sebagai seni memiliki beberapa kekuatan sebagai berikut.
    1) Karakteristik
    Karakteristik dapat digunakan sejarawan dalam menulis karya sejarah’ terutama biografi. Dalam menulis biograr. sejarawan harus mampu menggambarkan’ karakter atau watak tokoh yang diuji.

2) Struktur atau Alur Penulisan
Meskipun berbeda dengan alur sejarah, sejarawan dapat menggunakan alur sastra dalam tulisannya. Alur sastra terdiri atas tiga tahap, yaitu pengenalan (pendahuluan), krisis, dan solusi. Dengan mengikuti alur sasn’a tersebut, sejarawan akan mampu membawa pembaca dalam peristiwa yang ditulisnya.

Sejarah sebagai seni juga memiliki kekurangan sebagai berikut.

1) Ketepatan dan Objektivitas Berkurang
Unsur seni yang terlalu mendominasi dapat mengurangi ketepatan dan objektivitas karya sejarah yang dihasilkan karena seni merupakan hasil imaj’masi.
2) Cakupan Materi Sejarah menjadi Terbatas
Unsur seni yang herIebihan menyebabkan tulisan sejarah bersifat deskriptif sehingga cakupan materi terbatas bahkan tulisan sejarah menjadi kurang Objektlf

 

BAB 3

 

  1. Materi Pokok PembelajaranMateri yang dipelajari pada Bab 3 tentang Konsep Berpikir dalam Sejarah, yaitu sebagai berikut.

    Konsep berpikir diakronis.
    2. Konsep berpikir sinkronis.
    3. Konsep periodisasi dalam sejarah. 4 Konsep kausalitas dalam sejarah.

    B. lndikator Pembelajaran

    1. Mengidentifikasi beberapa peristiwa dan mengaitkannya dalam konsep bemikir dalam sejarah.
    2. Menjelaskan konsep berpikir dalam sejarah dalam mempelajari berbagai peristiwa.
    3. Membuat beberapa contoh peristiwa sqarah dan mengaitkannya dalam konsep berpikir dalam sejarah.
    4. Mempresentasikan hasil pengamatan mengenai konsep berpikir dalam Sejarah.

    C. Materi Pembelajaran

    1. Konsep Berpikir Diakronis Kata diakronis

    Kata Diakronis secara etimologi  berasal dari bahasa Yunani, dia dan Chronos. Dia mempunyai arti melintas  sedangkan Chronos berarti waktu. Sehingga, Diakronis mempunya arti sesuatu yang melintas,  melalui, dan melampaui  waktu  yang panjang, tetapi dalam batasan ruang. Jika dikaitkan dengan sejarah, sesuatu yang melintas, melalui, atau melampaui tersebut adalah peristiwa ‘ atau kejadian. Sejarah bersifat diakronis, digunakan untuk menceritakan kronologis suatu peristiwa di satu tempat. Hal ini berbeda dengan sejarah bersifat sinkronis yang menekankan suatu kejadian pada saat tertentu. .

    Konsep berpikir ini akan mengurutkan setiap kejadian secara runut betdasarkan waktu terjadinya peristiwaMengurutkan peristiwa-peristiwa sejarah sesuai dengan waktu terjadinya adalah untuk mempermudah kita’ dalam melakukan rekonstruksi terhadap semua peristiwa masa lalu dengan tepat. Kronologi juga membantu kita agar dengan mudah dapat membandingkan peristiwa sejarah yang terjadi di suafu tempat yang berbeda, tetapi dalam waktu  yang sama. Dengan berpikir kronologis,  secara tidak langsung kita mengutamakan kejadian. Hal ini memiliki tujuan untuk menghindari kerancuan waktu dalam sejarah.

    Berikut ini beberapa contoh berpikir kronologis.
    a. Kronologl Proklamasi Kemerdekaan Indonesna
    1) 6 Agustus 1945, Hiroshima dijatuhi bom oleh Sekutu.
    2) 7 Agustus 1945. PPKI dibentuk

3) 9 Agustus 1945 Nagasaki dijatuhi bom oleh Sekutu

4) 9 Agustus 1945, Jendral Terauchi memanggil tiga pimpinan bangsa Indonesia ke Dalat, Vietnam

5) 14 Agustus 1945, jepang menyerah pada sekutu

 

Jepang Menyerah Pada Sekutu

 

6) 15 Agustus 1945, Ketiga Pimpinan kembali dari Dalat dan mengabarkan kekalahan Jepang. Golongan Muda ingin segera memproklamirkan kemerdekaan

7) 16 Agustus 1945 terjadi peristiwa Rengasdengklok yang bertujuan mengamankan presiden Soekarno dan Muhammad Hatta

8) 17 Agustus 1945 Pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

  1. Kronologis pertempuran ambarawa (20 Oktober – 15 Desember 1945 )
  2. 20 Oktober 1945 tentara sekutu yang diboncengi NICA mendarat di Semarang
  3. 23 November 1945 ketika matahari mulai terbit mulailah terjadi tembak menembak antara para pejuang kemerdekaan dengan pasukan sekutu
  4. 11 Desember 1945 Kolonle Soedirman mengadakan rapat dengan para komandan Sektor TKR dan Laskar
  5. 12 Desember 1945 pukul 4.30 pagi serangan mulai dilancarkan
  6. Pertempuran berakhir pada tanggal 15 Desember 1945 dan Indonesia merebut Ambarawa. Sekutu dibuat mundur ke Semarang.

Jendral Soedirman

  1. Kronologis Pertempuran Surabaya (27 Oktober – 20 November 1945)
  2. 25 Oktober 1945 tentara Inggris bersama NICA mendarat di Surabaya
  3. Setelah Insiden perobekan bagian biru bendera belanda pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris
  4. 29 Oktober 1945, gencatan senjata antara pihak Indonesia dengan pihak Tentara Inggris ditanda tangani
  5. Setelah Gencatan Senjata, bentrokan bentrokan tetap saja terjadi sampai berpuncak pada terbunuhnya Brigadir Jendral Mallaby ( Pimpinan Tentara Inggris untuk Jawa Timur ) pada tanggal 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30 Wib
  6. 10 November 1945, pengganti Mallaby, Mayor Jendral Eric Carden Robert Mansergh mengeluarkan Ultimatum untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan.
  7. Ultimatum itu tidak dihiraukan. Pada tanggal 10 November 1945 pagi, tentara Inggris melancarkan serangan besar besaran.

Bung Tomo, salah satu pahlawan dalam pertempuran Surabaya

Konsep Berpikir Sinkronis

Kata Sinkronis berasal dari bahasa Yunani yaitu sync yang memiliki arti dengan dan chronicus yang berarti waktu.

Dalam Kamus Besar Bahasa  Indonesia sinkronis diartikan  segala sesuatu yang bersangkutan dengan
peristiwa yang terjadi pada suatu masa kajian sejarah secara Sinkronis artinya mempelajari peristiwa sejarah dengan segala aspeknya pada masa atau waktu tertentu dengan lebih mendalam.

Berbeda dengan konsep berpikir diakronis, konsep berpikir sinkronis tidak mencari sebab akibat dalam kajian yang dilakukan. Oleh karena itu, konsep berpikir ini bersifat horizontal.

Berikut contoh dari cara berpikir sinkronis mengenai peristiwa Proklamasi. Terdapat beberapa contoh cara berpikir sinkronis, yaitu suasana pembacaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Yang dikaji adalah di mana Proklamasi dilakukan dan bagaimana kondisi saat detik-detik Proklamasi. Selain itu juga dikaji mengenai siapa yang hadir dan bagaimana jalannya acara pembacaan Proklamasi 17 Agustus 1945 ini. Kita hanya perlu mengkaji mengenai ‘detik-detik Proklamasi tanpa  mengkaji bagaimana proses Proklamasi ini dibacakan yang menandai kemerdekaan Indonesia.

Contoh lain adalah masa kerajaan Samudra Pasai di Indonesia. Pada tahun 1297, Sultan Malik al Saleh wafat dan digantikan oleh Sultan Malik Az-Zahir sebagal putra Sultan Malik Al-Saleh dan perkawinannya dengan putri Raja Peureulak Selanjutnya Kerajaan Samudra Pasai dipimpin oleh Sultan Ahmad  pada tahun 1326. Seiring perkembangannya, Pasai menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam. Setelah Sultan  Ahmad I wafat digantikan oleh Sultan Malik Az-Zahir Il.

Kehidupan ekonomi Kerajaan Samudra Pasai digambarkan menjadi pelabuhan tempat persinggahan kapal-kapal dagang dari India (Gujarat), Arab, Persia, dan Cina. Komoditas yang paling utama di Samudra Pasai antara lain berupa lada, kapur barus, dan emas.  Budaya masyarakat Kerajaan Samudra Pasai sudah sangat bernuansa Islam sehingga banyak lahir karya-karya sastra  yang bernapaskan Islam.

Corak arsitektur  yang terdapat di Samudra Pasai sendiri sangat bemuansa Islam.  Meskipun konsep berpikir sinkronis terbatas dalam mang dan memiliki kurun waktu yang pendek, namun karena proses kajian peristiwa bersifat menyeluruh, hal tersebut menjadi sulit dilakukan. Oleh karena itu, kita memerlukan ilmu bantu sosial lainnya.

Terdapat beberapa ciri konsep berpikir sinkronis, yaitu seperti berikut ini.

a. Kerangka berpikir sinkronis mengamati kehidupan sosial _secara meluas berdimensi mang.
b. Konsep berpikir sinkronis memandang kehidupan masyarakat sebagai sebuah sistem yang terstruktur dan saling berkaitan antara satu unit dengan unit lainnya.
c. Menguraikan kehidupan masyarakat secara deskriptif dengan menjelaskan satu demi satu bagian.
d. Memiliki sifat statis.
e. Digunakan oleh ilmu-ilmu sosial seperti geografl, sosiologi, ekonomi. politik, arkeologi, dan antropologi.

  1. Konsep Periodisasi dalam SejarahPeriodisasi berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu periode. Periode memiliki arti babak, masa, atau zaman. Periodisasi dapat diartikan sebagai pengelompokan peristiwa-peristiwa sejarah ke dalam suatu babak, masa, atau zaman. Pembabakan dilakukan karena rentang waktu atau masa sejak manusia ada hingga sekarang mempakan rentang yang sangat panjang sehingga membuat kita mengalami kesulitan untuk memahami maupun membahas masalah-masalah yang muncul dalam sejarah kehidupan manusia. Untuk mempermudah pemahaman dan pembahasan sejarah kehidupan manusia, dibuat suatu periodisasi-periodisasi atau pembabakan-pembabakan masa sejarah.

    Untuk membuat periodisasi dari sebuah peristiwa, hal yang harus dipahami adalah dasar pembagian periodisasi tersebut. Contoh periodisasi adalah pembagian zaman dari Zaman Praaksara dan Zaman Aksara yang dasar pembagiannya adalah kemampuan manusia dalam mengenal tulisan.

    Terdapat beberapa tokoh yang membuat periddisasi sejarah di Indonesia, yaitu sebagai berikut.

    a. H.J. de Graaf, dalam bukunya yang berjudul: “Geschiedenis van Indonesia,” membagi babakan waktu
    sejarah Indonesia sebagai berikut.

    1) Orang Indonesia dan Asia Tenggara (sampai dengan 1650). a) Zaman Hindu. b) Zaman penyiaran Islam dan berdirinya Kerajaan Islam.
    2) Bangsa Barat di Indonesia (1511-1800).
    3) Orang Indonesia di zaman VOC (1600-1800).
    4) VOC di luar Indo’nesia.

4. Moh. Yamin, dalam bukunya “6000 ‘ Tahun Sang Merah Putih”, membuat babakan waktu/periodisasi sejarah Indonesia sebagai berikut.

1) Zaman Prasejarah sampai permulaan Tarikh Masehi.
2) Zaman Proto Historis, dari permulaan Tarikh Masehi sampai ke Abad VII.
3) ‘ Zaman Sriwijaya Syailendra (abad Vll-XII).
4) Zaman Singasari Majapahit (Abad Xlll-XVI).

5) Zaman Penyusunan Kemerdekaan Indonesia sejak XVI XIX.

Menurut pendapat Dr Soekanto periodisasi hendaknya berdasarkan ketatanegaraan, artinya bersifat politik. Pembagian atas babakan masa (periodisasi ) yang berdasarkan kenyataan-kenyataan sedapat mungkin harus pasti serta praktis. Menurutnya, periodisasi sejarah Indonesia diusulkan secara kronologis sebagai berikut.

1) Masa pangkal sejarah (SM-O)
2) Masa Kutai-Tammanegara (0-600)
3) Masa Sriwijaya-Medang Singasari (600-1300)

4) Masa Majapahit (1300-1500)

5) Masa Kerajaan Islam (1500 – 1600 )

6) Masa Aceh, Mataram, Makassar (1600-1700)
7) Masa pemerintah asing (1700-1945)
8) Zaman Kompeni (1800-1808)

9) Zaman Daendels (1808-1811)
10) Zaman British Government (1811-1816)
11) Zaman Nederlands India (1816-1942)
12) Zaman Nippon (1942 – 1945)

13) Masa Republik Indonesia (1945 – Sekarang )

d. Menumt pemikiran Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, sebagai dasar bagi babakan masa (periodisasi) adalah derajat integrasi yang tercapai di Indonesia pada masa lampau. Menurut pemikirannya, faktor ekonomi sangat memengaruhi perkembangan sosial, politik, dam kultur di Indonesia.  Faktor ekonomi memengaruhi kontak lndonesia dengan luar negeri yang mendatangkan pengaruh kebudayaan luar, baik budaya Hindu dari India, budaya Islam dari Asia Barat, serta budaya barat baik dari Eropa atau negara-negara lainnya Maka ada kemungkinan untuk membedakan dua periode besar.  yaitu pengaruh Hindu dan pengaruh Islam.  Sebutan dari periode itu memakai nama kerajaan.

sebab  sifat masyarakat pada waktu itu masih homogen dan berpusat pada raja ( Istana Sentri ). Adapun Periodisasi yang diusulkan oleh Prof. Dr. Sartono adalah sebagai berikut.

  • Prasejarah
  • Zaman Kuno
  1. Masa kerajaan-kerajaanu tertua ” ‘ J ‘ ‘ . ‘
    b) Masa Shw1jéya (dari abad VII 4Xlll atau XIV).
    c) Masa Majapahit (dari abad XIV XV).
  • Zaman Barua) Masa Aceh, Mataram, Makassar/Ternate/Tidore (sejak abad XVI).

    b) Masa perlawanan terhadap lmperialisme Barat (abad XIX).
    c) Masa pergerakan nasional (abad XX).

    4) Masa Republik Indonesia (sejak tahun 1945).
    Tujuan dibuat sebuah periodisasi adalah sebagai berikut.

    Mempermudah dalam memahami sejarah.
    b. Mengklasifikasikan peristiwa-peristiwa sejarah.
    c. Mempermudah dalam menganalisis perkembangan dan perubahan yang terjadi di setiap periode.
    d. Menyederhanakan rangkaian peristiwa sejarah.

 

  1. Konsep Kausalitas dalam Sejarah Selain itu kita juga akan berpikir cara bepikir kausalitas membuat kita berpikir bahwa sebuah peristiwa tidak dapat berdiri sendiri. Pasti terdapat sebab mengapa peristiwa tersebut terjadi dan apa akibat akibat yang ditimbulkan peristiwa tersebut.

Contoh cara berpikir kausalitas Menurut Kuntowijoyo adalah

  1. Analisis monokausal
    mendeskrispsikan terjadinya sebuah fenomena atau peristiwa yang disebabkan oleh satu faktor.b. Analisis multikausal

mendeskripsikan terjadinya sebuah fenomena atau peristiwa yang disebabkan oleh beberapa factor

 

BAB 4

Sumber Sejarah

  1. Materi Pokok PembelajaranMateri yang dipelajari pada Bab 4 tentang Sumber Sejarah, yaitu sebagai berikut.

    1. Pengertian sumber sejarah.

  2. Sumber sejarah menurut sifatnya.
  3. Sumber sejarah menurut periodenya.B. lndikator Pembelajaran

    1. Menjelaskan berbagai sumber sejarah.
    2. Menyebutkan beberapa sumber sejarah.
    3. Menyajikan hasil evaluasi kelebihan dan kekurangan berbagai sejarah dalam bentuk tulisan.
    4. Memberikan contoh berbagai sumber sejarah.

    C. Materi Pembelajaran

    1. Pengertian Sumber Sejarah

    Dalam bahasa Inggris, sumber disebut datum (bentuk tunggal) dan data (bentuk jamak). Dalam bahasa Latin, sumber juga disebut datum yang berarti pemberian. Sumber sejarah adalah sesuatu yang secara tidak langsung menyampaikan kepada kita tentang kenyataan di masa lalu. Sumber sejarah merupakan bahan utama yang dipakai untuk mengumpulkan informasi berkaitan dengan subjek sejarah

    Berikut adalah beberapa definisi sumber sejarah yang dikemukakanoleh para ahli, di antaranya sebagai benkut.

    a. Muh. Yamin (1960)
    Sumber sejarah adalah kumpulan benda kebudayaan untuk membuktikan sejarah.

    b. Sidi Gazalba (1996)
    Sumber sejarah adalah warisan yang berbentuk Iisan, tertulis, dan visual.

    c. Moh. Ali (2005)
    Sumber sejarah adalah segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud serta berguné bagi penelitian sejarah Indonesia sejak zaman purba sampai sekarang.

 

Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa sumber sejarah adalah setiap jenis warisan kebudayaan yang berbentuk Iisan, tertulis, visual, serta dapat digunakan untuk mencari kebenaran, baik yang terdapat di Indonesia maupun di luar wilayah Indonesia sejak Zaman Prasejarah sampai sekarang.

Bagi sejarawan, sumber sejarah menjadi pegangan utama untuk merekonstruksi peristiwa sejarah Tanpa adanya sumber sejarah, sejarawan tidak bisa melakukan rekonstruksn peristiwa masa lalu. Sejarah ada karena rekonstruksi yang dilakukan sejarawan terhadap sumber sejarah. Oleh karena Itu untuk mengungkap kembali masa lampau sejarawab memerlukan sumber sejarah yang kredibel dan dapat dlpertanggungiawabkan

2. Sumber Sejarah Menurut Sifatnya

Menurut Louis Gotthsehalk dalam Pengantar ilmu Sejarah (Aam Abdillah, 2012: 97). sumber sejarah menurut sifatnya dibagi menjadi dua, yaitu sumber primer dan sumber sekunder.

a. Sumber Primer

Sumber primer disebut juga sumber utama, yaitu kesaksian dari seseorang saksi dengan mata kepala sendiri atau alat indra yang lain. Sumber primer dihasilkan oleh orang yang ada pada zaman yang sama dengan peristiwa yang dikisahkan. Sumber primer harus asli dalam arti kesaksiannya tidak berasal dari sumber lain. Contoh sumber primer misalnya prasasti

b. Sumber Sekunder

Sumber sekunder disebut Juga sumber kedua, yaitu sumber yang bans, informasi yang tidak langsung atau bukan dari pelaku maupun saksi mata. Contoh sumber sekunder adalah informasi yang disampaikan oleh sejarawan, baik melalul buku maupun surat kabar.

  1. Sumber Sejarah Menurut PeriodenyaMenurut jenisnya, sumber sejarah dapat dikelompokkan dalam dua periode masa, yaitu Zaman Pfasejarah dan Zaman Sejarah. Berikut uraiannya.

    a. Sumber-sumber Zaman Prasejarah

    Berikut beberapa sumber dari Zaman Prasejarah yang masih dapat kita jumpai dan pelajari

  2. ArtefakArtefak adalah benda-benda peninggalan sejarah (arkeologi) yang merupakan hasil cipta/karya manusia yang merupakan peninggalan dari masa lampau. Benda-benda artefak tersebut terbuat dan’ batu, duri. maupun logam. Contohnya adalah sebagai berikut.

    a) Artefak berupa kapak perimbas, alat serpih dari batu, dan alat dari tulang yang ditemukan di Pacitan dan Ngandong. Artefak tersebut diketahui ada sejak Zaman Paleolitikum, yaitu ketika manusia masih hidup berpindah-pindah.

    b) Artefak berupa Abris sous roche (tempat tinggal berupa goagoa pada batu karang) dan juga kjokkenmoddinger (sampah dapur yang berupa sampah kerang dan siput yang menggunung). Dari artefak tersebut diketahui bahwa manusia mulai hidup menetap di  Zaman Mesolitikum.

    c) Artefak berupa dolmen, sarkofagus, waruga, dan punden berundak. Dan  artefak tersebut diketahui bahwa  kebudayaan manusia semakin meningkat dengan membuat benda benda dari batu-batu besar (Zaman  Megalitikum).

  3. d) Artefak berupa peralatan dari emas. pemnggu. dan besi. Artefak tersebut duketahui berasal dari Zaman Logam dan menandakan bahwa tingkat teknologi manusia telah maju.Artefak sebagai sumber sejarah, memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut.

    (1) Kelebihan
    Artefak menjadi rekaman jejak kehidupan dan kebudayaaan manu51a pada masa lampau. yang menjadi sumber historiografi bagi peneliti.

    (2) Kekurangan
    Artefak dikhawatirkan sudah tidak utuh dan mengalami kerusakan bagian ketika penggalian, sehingga dapat mengurangi objektivitas sejarah. Fosil

    2) FOSIL

Dalam bahasa Latin fosil yaitu fossa  yang berarti “menggali keluar dari dalam  tanah” adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi  batu atau mineral. Untuk menjadi fosil sisa sisa hewan atau tanaman ini harus segera tertutup sedimen.  llmu yang mémpelajari fosil adalah paleontologi, yang Juga merupakan cabang ilmu arkeologi fosil sebagai sumber sejarah  memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut.

  1. Kelebihan

Fosil menjadi rekaman kehidupan makhluk hidup pada masa lampau.  Berdasarkan fosil yang ditemukan, para peneliti dapat menentukan umur fosil dan masa hidupnya maupun bentuk makhluk hidup pada masa itu.

 

 

  1. Kekurangan

Fosil makhluk hidup tidak dapat menjadi acuan mutlak dalam penelitian sejarah, karena tidak didukung dengan sumber yang nyata. melainkan lebih kepada interPrestasi dan imajinasi peneliti.

b. Sumber-sumber  zaman Sejarah
Sumber sejarah yang tergolong dalam Zaman Sejarah adalah sebagai berikut ;

1) Sumber Tekstual (Tertulis)
Sumber sejarah tertulis adalah sumher sejarah yang diperoleh melalui pemnggalan-peninggalan tertulis atau catatan peristiwa yang terjadi di masa lalu. Contoh sumber tertulis antara lain prasasti, manuskrip, buku, notula, arsip, dokumen, surat kabar  dan sebagainya.

Sumber sejarah tekstual sebagai sumber sejarah, memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut.

  1. Kelebihan: Sumber tertulis menjadi catatan peristiwa yang terjadi berdasarkan yang dialami pada saat berlangsungnya peristiwa. Sumber tertulis yang dipahatkan dalam media batu seperti prasasti dan candi memiliki ketahanan terhadap usia kerusakan akibat kondisi perubahan alam.b) Kekurangan: Sumber sejarah tertulis yang sebagian besar menggunakan media kertas atau daun~daun tertentu, tidak tahan terhadap perubahan kondisi cuaca dan zaman sehingga mudah lapuk dan rusak, serta memerlukan perawatan yang memakan biaya besar.

    Sumber Nontekstual (Lisan) Sumber lisan adalah keterangan  langsung dari pelaku atau saksi sejarah peristiwa sejarah. Contohnya, cerita dari veteran kemerdekaan dapat digunakan sebagai bahan penulisan sejarah. Sumber lisan dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

 

  1. Tradisi lisan, adalah cerita yang hidup dalam kelompok masyarakat tertentu yang disampaikan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi lisan tidak dapat dijadikan sumber sejarah primer karena berasal dari mulut ke mulut tanpa diketahui sumber aslinya sehingga informasi yang terkandung kurang valid.b) Sejarah lisan, adalah kenangan seorang pelaku atau saks1 peristiwa sejarah dengan proses wawancara Keterangan yang ingin dldapat melalui teknik wawancara antara lain keterangan yang bersi fat memastikan fakta, keterangan yang memperkuat  kepercayaan tentang keadaan fakta, keterangan tentang perasaa keterangan tentang kegiatan keterangan tentang alasan seseorang.

 

Berikut ini kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh sumber sejarah lisan

 

  1. Kelebihan: Sumber sejarah lisan didapat dari komunikasi dua arah sehingga memungkinkan sejarawan dapat menanyakan langsung bahasa yang kurang jelas kepada narasumber
  2. Kekurangan: Sumber sejarah lisan cendrung bersifat subjektif dan batas pada daya ingat seorang dengansejarah sehingga membuat kisah sejarah yang tidak Valid3) Sumber Kebendaan dan Visual

 

Sumber benda adalah sumber sejarah yang berupa benda-benda peninggalan budaya atau disebut juga benda purbakala.  Sumber kebendaan juga termasuk dalam sumber visual Sumber visual adalah suatu sumber yang berbentuk dan berwujud benda yang dapat menjelaskan suatu peristiwa misalnya candi dan patung.

Untuk menggungkapkan sumbersumber sejarah yang berbentuk benda diperlukan berbagi ilmu bantu sebagal berikut ;

a) Arkeologi, yaitu ilmu yang mempelajari benda atau peninggalan kuno.
b) Antropologi, yaltu ilmu yang mempelajari asal-usul kejadian  serta perkembangan manusia dan kebudayaannya.
c) Ceramologi, yaitu ilmu yang mempelajan tentang karamik
d) Epigrafi, yaitu ilmu yang mempelajari tulisan kuno atau prasasti

  1. e) Fisiologi yaitu ilmu yang mempelajari bahasa kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa yang terdapat dibahan bahan tertulis
  2. f) Geologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang tekhnik pembuatan patung
  3. h) Numismatik yaitu ilmu yang mempelajari mata uang
  4. i) Palaentologi yaitu ilmu yang mempelajari sisa makhluk hidup yang sudah membatu
  5. j) Palaeoantropologi yaitu ilmu yang mempelajari bentuk manusia yang paling sederhana hingga sekarang.
  6. k) Sosiologi yaitu ilmu yang mempelajari sifat keadaan dan pertumbuhan masyarakat.’

 

Cara untuk mengetahui usia peninggalan sejarah adalah sebagai berikut :

a) Tipologi, yaitu cara penentuan usia peninggalan sejarah berdasarkan bentuk dan tipenya. Semakin sederhana bentuk peninggalan semakin tua usia benda tersebut.

b) Stratigrafi, yaitu cara penentuan umur peninggalan sejarah berdasarkan lapisan tanah tempat benda itu berasal atau ditemukan. Semakin ke bawah, lapisan tanah tempat penemuan benda tersebut, maka semakin tua usianya.

C) Kimiawi  yaitu cara penentuan umur benda peninggalan sejarah berdasarkan unsur kimia yang lerkandung dalam benda itu.

SumbeI sejarah kebendaan dan Visual sebagal sumber sejarah, memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut ;

a) Kelebihan

Sumber sejarah kebendaan dan visual dapat secara mudah diamati dan disentuh oleh sejarawan. Misalnya, candi dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus menjadi aset warisan budaya bangsa.

b) Kekurangan

Sumber sejarah kebendaan dan visual terkadang telah mengalami kerusakan bahkan dapat dipalsukan dengan replika. Sehingga, penyimpanan dan perawatannya juga harus ketat dan membutuhkan biaya besar.

4) Sumber Audiovisual
Sumber audiovisual adalah sumber sejarah yang merupakan hasil rekaman media elektronik. Sumber audiovisual merujuk pada sumber suara (audio) dan komponen gambar (visual). Sumber audiovisual dapat bempa film dokumenter tentang peristiwa sejarah yang ditayangkan televisi atau diunggah di situs Youtube.

Sumber sejarah audiovisual sebagai sumber sejarah memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut.

a) Kelebihan

Sumber sejarah audiovisual dapat menarik minat dan mengembangkan daya imajinasi sejarawan. Sumber audiovisual juga dipandang lebih akurat dalam mengkaji suatu peristiwa sejarah.

b) Kekurangan

Sumber sejarah audiovisual rentan mengalami kerusakan dan tidak kompatibel dengan alat atau media untuk menampilkannya, karena sumber sejarah ini sebagian besar memanfaatkan media elektronik untuk menyimpan maupun menampilkan data.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 5

Langkah-langkah Penelitian Sejarah

  1. Materi Pokok PembelajaranMateri yang dipelajari pada Bab 3 tentang Langkah langkah Penelitian Sejarah yaitu sebagal berikut
  2. Jenis dan bentuk penelitian sejarah
  3. langkah-langkah penelitian sejarah
  4. Pengumpulan sumber (heunstIk)
  5. VerifIkasi (kritik sumber)
  6. lnterpretaSI (penafsiran atau eksplanasi)
  7. Historiografi (penulisan sejarah)
  8. lndikator PembelajaranMenyajikan langkah-langkah penelitian sejarah.
    2. Memahami beberapa langkahlangkah penelitian sejarah.
    3. Menerapkan langkah-langkah penehtian sejarah dalam mempelajari sumber sejarah yang ada di sekitarnya.
  9. Materi PembelajaranJenis dan Bentuk Penelitian Sejarah

    a. Jenis-jenis Penelitian Sejarah
    Sejarah disusun secara ilmiah yang meliputi kronologi fakta~fakta masa lampau, dengan tafsiran dan penjelasan ya dan pemahaman tentang apa yang telah berlaku. Jenis jenis penelitian sejarah terdiri atas berbagaI macam.

Jenis jenis penelitian sejarah terdiri atas berbagai macam sesuai dengan kepentingan dan tujuan yang dilakukannya penelitian. Secara garis besar jenis penelitian sejarah dapat dibedakan sebagai berikut ;

1) Penelitian Sejarah Komparatif

PenelItIan sejarah komparatif merupakan penelItian yang menggunakan metode sejaIah yang digunakan untuk membandingkan faktor-faktor dari fenomena sejenis pada suatu periode masa lampau. MIsalnya peneliti berusaha memperhatikan unsur perbedaan dan persamaan dari sistem pengajaran agama di Tiongkok dan Jawa pada masa kerajaan Majapahit.

2) Penelitian Sejarah Yuridis

Penelitian sejarah yuridis merupakan penehtian yang menggunakan metode sejarah yang dIgunakan untuk menyelidiki hal-hal yang bersangkutan dengan hukum (hukum formal‘maupun nonformal) pada masa lalu. Misalnya, peneliti menganalisis tentang keputusan pengadilan, akibat-akibat hukum adat, serta pengaruhnya terhadap suatu masyarakat pada masa lampau,

3) Penelitian Sejarah Biografis

Penelitian sejarah biografis merupakan penelitian yang menggunakan metode sejarah yang digunakan untuk meneliti kehidupan seseorang dan hubungannya dengan masyarakat. Jensi penelitian ini cendrung meneliti sifat, watak, pengaruh pengaruh lingkungan maupun pengaruh pemikiran dan ide serta pembentukan watak figure yang diterima hidupnya.

 

  1. Penelitian Sejarah BibliogralisPenelitian sejarah bibliografis merupakan penelitian yang menggunakan metode sejarah yang digunakan untuk mencari, menganalisis. membuat interpretasi, serta membuat generalisasi dari fakta-fakta yang merupakan pendapat para ahli dalam suatu masalah atau suatu organisasi. Penelitian ini di antaranya adalah menghimpun karya karya tertentu dan seorang penulis atau seorang Filsuf dan menerbitkannnya kembali Dokumen dokumen unik yang dianggap hilang atau tersembunyi dengan memberikan interpretasi serta generalisasi yang tepat terhadap karya tersebut.
  2. Bentuk Penelitian Sejarah
    Dalam melakukan penelitian ada beberapa cara atau teknik yang dilakukan oleh seorang sejarawan. Ada yang datang ketempat terjadinya peristiwa bersejarah atau tempat penemuan peninggalan atau tempat penemuan peninggalan sejarah.

 

  1. d) Penelitian Kepustakaan
    Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan untuk memperoleh data tertulis bai dari perpusatakaan maupun museum seperti kitab-kitab kuno kronik Tiongkok, arsip-arsip VOC,  autobiography, rekaman, video, buku buku dan surat khabar. Penelitian kepustakaan sering disebut juga sebagai penelitian dokumenter.

 

  1. langkah-langkah Penelitian Sejarah
    Sama seperti penelitian lainnya, dalam penelitian sejarah juga terdapat langkah langkah yang harus dilakukan oleh peneliti. Penelitian sejarah yang dimaksudkan untuk merekonstruksi secara sistematis, kronologis dan objektif.

Rekonstruksi sejarah adalah penyusunan kembali kisah sejarah sebagai peristiwa yang sebenarnya yang terjadi.  Berikut pengertian metode penelitian sejarah menurut beberapa sejarawan.

a. E.H Carr

Metode penelitian sejarah merupakan proses sistematis dalam mencari data agar dapat menjawab pertanyaan tentang fenomena dari masa lalu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dari suatu institusi, praktik, tren, keyakinan, dan isu-isu.

  1. louis Gottschalk
    Metode penelitian sejarah merupakan suatu kegiatan mengumpulkan, menguji dan menganalisis data yang diperoleh dari peninggalan peninggalan pada masa lampau.c. Gilbert Garaghan
    metode penelitian sejarah merupakan seperangkat aturan atau prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber sumber sejarah secara efektif melengkapi secara kritis dan mengajukan sintesis dari hal hal yang dicapai dalam bentuk tertulis.

Dalam buku pengantar ilmu sejarah (2005:90), kuntowijoyo menjelaskan penelitian sejarah memiliki lima tahapan yang saling berhubungan. Berikut lima tahapan penelitian sejarah menurut Kuntowijoyo.

  • Pemilihan Topik

Langkah pertama dalam penelitian sejarah sifat umum, dalam arti berlaku juga untuk semua jenis penelitian yaitu menentukan topik . Topik merupakan suatu masalah yang menarik untuk diteliti.

 

  1. Manageable Topik

Pemilihan topik harus disesuaikan dengan latar belakang pengetahuan kecakapan dan kemampuan peneliti. Selain itu diperhatikan pula dana dan waktu penelitian.

  1. b) Obtainable Data
    Ketersediaan data (kepustakaan literatur, arsip, dan sumber lisan) Sangat menentukan    keberhasilan penelitian.c) significance of Topic

Topik yang diplih harus memiliki manfaai bagi perkembangan ilmu pengetahuan

  1. d) Interested of Topic
    Peneliti dapat menentukan topik berdasarkan minat. Seorang peneliti akan lebih bersemangat mengerjakan penelitiannya jika objek yang diteliti sesuai dengan minat dan ketertarikannyaBerikut dua pertimbangan yang hams dipikirkan oleh sejarawan dalam menetukan topik penelitian.

    (1) Kedekatan Emosional
    Pemilihan tema yang didasarkan pada ketertarikan terhadap daerah lingkungannya disebut kedekatan emosional. Seseorang akan mudah melakukan penelitian jika ia memiliki kedekatan dengan topik yang ia Pilih

Sebagai contoh, seseorang yang tinggal di Jakarta akan mudah mengkaji permasalahan banjir dan kemacetan yang terjadi di Jakarta.

(2) Kedekatan lntelektual
Pengetahuan dan wawasan peneliti mengenai topic yang akan dikaji mempengaruhi proses penelitian. Peneliti yang memiliki pengetahuan tentang topik yang dikaji akan lebih mudah untuk menjalankan penelitian. Kedekatan seperti inilah yang disebut kedekatan intelektual. Sebagai contoh, jika dia seorang pengamat politik dan hukum, Anda akan lebih mudah menulis sejarah politik dan hukum.

Untuk mengarahkan kajian agar lebih fokus, peneliti sebaiknya membuat susunan anggaran penelitian dalam membuat pertanyaan penelitian, peneliti dapat menggunakan rumus 5W + 1H berikut ;

(a) Apa (What)
Apa topik yang akan diteliti? Pertanyaan tentang “apa” merujuk pada aspek-aspek yang akan diteliti. Misalnya, seorang peneliti ingin meneliti sejarah suatu desa. Dari desa tersebut, bisa dipilih aspek ekonomi, sosial, politik, atau budaya sebagai bahan penelitian.

(b) Siapa (Who)

Siapa yang diteliti? Pertanyaan “siapa” merujuk pada tokoh atau sosok yang berkaitan dengan kajian penelitian dalam penelitian mengenai sejarah desa, harus ditentukan siapa saja yang akan ditelitl atau kelompok-kelompok sosial mana yang akan diteliti. Misalnya, ingin meneliti perkembangan sosial ekonomi suatu desa, salah satu komponen yang harus diteliti adalah petani dan perajin di desa tersebut. ‘

(c) Di Mana (Where)
Pertanyaan “di mana” merupakan pertanyaan untuk menunjukkan aspek spasial (keruangan) yang akan diteliti. Aspek spasial dapat berupa tempat atau lingkungan geografns yang akan diteliti seperti desa, kecamatan, kota, atau provinsi.

(d) Mengapa (Why)
Pertanyaan “mengapa” digunakan untuk menganalisis atau memperdalam topik yang menjadi fokus penelitian. Misalnya, tema penulisan tentang perubahan sosial masyarakat Yogyakarta tahun 1950-1955. Mengapa pada tahun tersebut di Yogyakarta terjadi perubahan sosial? Pembahan sosial ini dapat dilihat dari perubahan status pekerjaan, kepemilikan tanah, pendidikan, serta peran dan kedudukan tokoh masyarakat Yogyakarta.

(e) Bagaimana (How)

Pertanyaan “bagaimana” menguraikan lebih jauh mengenai topik penelitian dengan kondisi tertentu. Bagaimana perubahan itu terjadi? Misalnya, bagaimana hubungan kondisi politik Indonesia terhadap perubahan sosial di Yogyakarta pada periode tersebut? Kondisi politik yang tidak stabil saat itu cukup memengaruhi kondisi sosial masyarakat Yogyakarta. Ketidakstabilan politik pada masa itu menyebabkan kriminalitas di Yogyakarta semakin meningkat.

Ada beberapa kesalahan yang harus dihindari sejarawan agar dapat memilih topik dengan baik. Kuntowijoyo, dalam  bukunya Pengantar Ilmu Sejarah (2005: 162), menjelaskan beberapa kesalahan yang harus dihindari sejarawan dalam pemilihan topik sebagai berikut.

  1. Kesalahan Baconian yaitu pendapat bahwa tanpa teori, konsep, ide, paradigma, praduga, hiptesis, atau generalisasi yang lain, penelitian sejarah dapat dilakukan.
  2. Terlalu banyak pertanyaan artinya dalam melakukan penelitian beberapa hal tidak boleh ditanyakan sekaligus. Pertanyaan yang terlalu benyak membuat fokus pertanyaan akan hilang.
  3. Kesalahan pertanyaan yang bersifat dikotonomi yaitu pandangan sejarah yang hitam putih seolah olah sejarah hanya memiliki dua kemungkinan seakan akan sejarawan bertugas mengadili padahal sejarawan bertugas melukiskan peristiwa sesuai kondisi sebenarnya.

 

  1. Pengumpulan Sumber (Heuristik)

Heuristik berasal dari bahasa Yunani, heurikein, yang berarti menemukan. Dalam kegiatan penelitian sejarah, heuristik berarti kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, dan menghimpun jejak Ada beberapa kesalahan jejak jejak masa lalu. Dengan mengumpulkan dihindari agar pengumpulan sumber sumber-sumber sejarah, diharapkan akan ada informasi sejarah  langsung diperoleh data dan fakta bagi penulis

 

Tahap heuristik meliputi tiga hal

  1. Corroboration, membandingkan data yang ada untuk menentukan apakah data tersebut memberikan informasi yang sama. Langkah ini juga sering digunakan untuk memverifikasi keaslian data.
    b. Sourcing, mengidentifikasi penulis, tanggal, serta tempat dibuatnya data.
    c. Contextualization, yaitu mengidentifikasi waktu dan tempat peristiwa.

 

Dokumen yang berhasil dihimpun merupakan data yang berharga meskipun demikian tidak semua dokumen menjadi sumber sejarah untuk mengetahui dokumen penting dan dapat menjadi sumber sejarah dapat berpedoman pada empat aturan umum berikut ;

  1. Semakin dekat waktu pembuatan dokumen dengan peristiwa yang direkamnya semakin baik dokumen tersebut bagi tujuan sejarah
  2. Semakin serius pengarangnya membuat rekaman peristiwa, dokumennya akan menjadi semakin dapat terpercaya sebagai sumber sejarah
  3. Semakin besar sifat rahasianya semakin besar kemungkinannya bahwa dokumen tersebut bersifat murni
  4. Semakin tinggi tingkat keahlian sipenyusun laporan pada bidang yang dilaporkannya, laporan terSebut semakin dapat dipercaya.Ada beberapa kesalahan yang harus dihindari agar pengumpulan sumber informasi sejarah dapat berlangsung dengan baik. Berikut beberapa kesalahan.
  5. Kesalahan holisme, terjadi akibat sejarawan memilih satu bagian yang penting dan mengganggap pemilihan bagian tersebut dapat mewakili keseluruhannya.
  6. Kesalahan pragmatis terjadi karena sumber dipilih untuk tujuan tertentu. Pengumpulan sumber seperti ini sering tidak utuh.
    c. Kesalahan ad hominem muncul akibat dalam proses pengumpulan sumber sejarah, peneliti memilih orang, otoritas, profesi, pangkat, atau jabatan tertentu. Untuk menghindarinya perlu dilakukan pengumpulan data dari tiga sumber yaitu dari pihak yang berkaitan dengan peristiwa pihak yang saling bertentangan dan saksi mata yang terlibat.
  7. Venfikasi (Kritik Sumber)Verifikasi atau kritik sumber mempakan kegiatan untuk menguji keautentikan (keaslian) suatu sumber. Kritik sumber dilakukan untuk menguji kredibilitas dan keabsahan sumber.

    Tujuan utama kritik adalah menyeleksi data untuk memperoleh fakta-fakta. Kritik yang dilakukan meliputi enam kriteria, yaitu tanggal, lokasi, pengarang, analisis, integritas (bentuk) sumber. dan kredibilitas (nilai bukti) sumber.

    Kritik sumber atau veriflkasi dikategorikan menjadi dua, yaitu kritik ekstern dan kritik intern. Penjelasan kedua jenis verifikasi tersebut sebagai berikut.

    a. Kritik Ekstern (Autentisitas)

    Untuk menguji autentisitas (keaslian) suatu sumber, penulis sejarah harus melakukan kritik ekstern. Sebuah sumber memiliki tiga kemungkinan autentisitas (keaslian), yaitu sepenuhnya asli, sebagian asli, dan tidak asli. Aspek-aspek yang dinilai dalam kritik ekstem sebagai berikut.

    1) Waktu (Pertanggalan)

    Peneliti perlu mencermati tanggal yang tertera pada suatu dokumen untuk menilai keaslian dokumen tersebut. Jika suatu dokumen tidak menyebutkan pertanggalannya, maka dapat ditelusuri berdasarkan cara terminus post quem (pertanggalan paling awal) dan terminus ante quem (pertanggalan paling akhir).

    2) Pembuatan Sumber

    Pembuat sumber dan bahan pembuatan sumber dapat diketahui dari sumber itu sendiri. Bentuk sumber. baik sumber asli maupun sumber turunan, juga dinilai pada tahap ini. Analisis sumber tumnan dilakukan berdasarkan ilmu bantu lain seperti filologi yang secara khusus membahas mengenai teks dan naskah secara terperinci.

    3) Pembuktian Keaslian

    Pembuktian keaslian meliputi seluruh sumber seperti laporan-laporan, catatan perjalanan, surat, memo. dan notulen. Peneliti perlu mengkritisi seluruh komponen fisik (penampilan luar) seperti kertas. tinta, gaya tulisan, dan gaya bahasa untuk menentukan keaslian sebuah dokumen (sumber).

    b. Kritik Intern (Kredibilitas)

    Kritik intern dimaksudkan untuk menguji lebih mendalam tentang isi dokumen. Kritik intern sering disebut uji kredibilitas. Penulis sejarah dapat menguji seberapa jauh suatu sumber, informasi, atau dokumen dapat dipercaya kebenaran dan isi informasinya. Sasaran kerja intern adalah uji kredibilitas informan (dalam wawancara), pengarang (penulis) sumber, atau dokumen. Peneliti sejarah melakukan kritik terhadap sumber lisan dengan cara sebagai berikut.

    1) Peneliti harus melihat usia informan. Semakin tua usia informan, kemungkinan ingatannya mulai berkurang.
    2) Melihat peran informan dalam peristiwa yang diteliti. Artinya, ia menyaksikan langsung peristiwa itu atau tidak.
    3) Melakukan cek silang antara informan yang satu dengan informan yang lainnya.

Kritik Intern sangat berguna bagi penelitian karena pada tahap ini sumber dibuktikan kredibilitasnya dan validitasnya. Oleh karena itu, dalam tahap ini, peneliti harus teliti kritis, dan cermat dalam menyeleksi dokumen yang telah dikumpulkan dalam dokumen dokumen tersebut . Terkadang terdapat kesalahan kesalahan yang menjadikan dokumen tersebut tidak menghasilkan data yang dapat dipercaya. Menurut Gilbert J Garrgahan, beberapa kesalahan dalam suatu dokumen yang harus diperhatikan oleh peneliti untuk mendapatkan data yang dapat dipercaya sebagai berikut ;

1) Kesalahan pada sumber informal.
2) Kesalahan pada sumber formal.
3) Kesalahan dalam persepsi.
4) Kesalahan dalam sintesis fakta.
5) Kesalahan dalam reproduksi (terbit/ cetak ulang).
6) Kesalahan dalam komunikasi.
7) Peran ilusl dan halusinasi.

  1. Interpretasi (Pénafsiran atau Eksplanasi)Interpretasi adalah menafsirkan fakta sejarah dan merangkax fakta tersebut. menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal lnterpretasi dalam sejarah dapat diartikan sebagai penafsiran suatu peristiwa atau memberikan pandangan teoretis terhadap suatu peristiwa.

    Sejarah sebagai suatu peristiwa dapat diungkap kemball oleh para sejarawan melalui berbagal sumber, balk berbentuk data, dokumen perpustakaan, buku. berkunjung ke situs situs sejarah atau Wawancara. sehingga dapat terkumpul dan mendukung dalam proses interpretasi. Melalui langkah interpretasi ini. peneliti dapat menjawab pertanyaa pertanyaan mengenai objek yang dikaji Interpretasi dapat dilakukan dalam dua langkah sebagai berikut.

    Analisis (Menguraikan)

    Analisis berarti menguraikan. Penulis atau peneliti harus menguraikan data – data yang sudah diseleksi untuk menjaWab pertanyaan-pertanyaan penelitian. Sebuah sumber yang ditemukan terkadang mengandung beberapa kemungkinan. Peneliti harus menguraikan untuk menemukan fakta-fakta.

    b. Sintesis (Menyatukan)

    Sintesis berarti menyatukan. Penulis atau peneliti harus menghubungkan antara sumber satu dan sumber lainnya untuk membuktikan adanya hubungan sebab akibat atau hubungan saling memperkuat data. Sintesis merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh penelitl untuk menginterpretasikan sumber.

    Proses interpretasi dan penyusunan fakta-fakta bersifat selektif, karena tidak mungkin semua fakta dimasukkan ke dalam cerita Fakta yang dipilih adalah fakta-fakta yang relevan dengan topik penelitlan. Interpretasi terhadap fakta sering menyebabkan terjadinya perbedaan dalam penulisan sejarah. sebab pada tahap ini muncul subjektivitas Perbedaan-perbedaan dalam interprestasi sejarah sering disebabkan oleh.

    1) Adanya pandangan yang berbeda di kalangan sejarawan.
    2) Wawasan atau pengetahuan yang terbatas.
    3) Ketertarikan (interest) yang barbeda

  • ldeologn yang berbeda.
    5) Kepentmgan kelompok yang berbeda
    6) Latar belakang sosial yang berbeda.
    7) Tujuan penuhsan yang berbeda. Agar objektlvitas sejarah dapat diselesaikan dengan baik sejarawan harus menghlndari beberapa kesalahan berikut.1) Kesalahan pars pro toto, terjadi karena ada anggapan bahwa bukti untuk sebagian berlaku untuk keseluruhan. Sebagai contoh, dalam karya Habis Gelap Terbilah Terang, Kartini mengatakan wanita Jawa selalu dipingit. Sebenarnya tradisi pingitan hanya berlaku untuk Gadis bangsawan, sedangkan gadis desa dan santri di pesantren tidak mengalami tradisi pingitan.

    2) Kesalahan totem pro parte, merupakan kebalikan dari kesalahan pars pro toto. Sejarawan mengemukakan keseluruhannya, padahal yang dimaksudkan adalah bukti untuk sebagian.

    3) Kesalahan yang menganggap pendapat umum sebagl fakta. Misalnya orang Tionghoa Identik dengan pedagang, padahal ada juga orang Tionghoa yang menjadi guru atau ilmuwan.

    Historiografi (Penulisan Sejarah)

    Historiografi adajah proses menyusun secara tertulis hasil temuan-temuan yang dlperoleh dalam satu penelman sejarah menjad’L cerita yang siap untuk dxbaca para pembacanya. Penuhsan sejarah atau historiografi merupakan tahap akhlr dalam penehtian sejarah. Penuhsan klsah seJarah mi tidak boleh melupakan aspek kronologis

Dalam penulisan sejarah  penulis juga harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan Kaidah penulisan sejarah tidak jauh berbeda den ilmiah lainnya. Berikut kaidah kaidah penulisan sejarah.

Bahasa yang digunakan harus baik dan benar menurut kaidah kebahasaan. Karya sejarah dituntut menggunakan kalimat efektif.

Memperhatikan konsistensi. misalnya dalam penggunaan tanda baca, penggunaan istilah, dan rujukan sumber. lstilah dan kata-kata tertentu harus digunakan sesuai konteks permasalahannya.

Format penulisan harus sesuai kaidah atau pedoman yang berlaku, termasuk format penulisan daftar pustaka/bibliografl/daftar sumber.

Penyajian penelitian sejarah terdiri dalam tiga bagian utama, yaitu sebagai berikut.

a. Bagian pertama terdiri atas judul dan pendahuluan yang antara lain memuat latar belakang permasalahan, kajian pustaka, metode yang dlgunakan, dan garis besar isi.

b. Bagian kedua berisi pembahasan atau uraian argumentasi yang disusun menjadi kisah atau rekonstruksi peristiwa yang dikaji

  1. Bagian ketiga atau bagian akhir kesimpulan Pada bagian akhir ini Juga memuat daftar pustaka
    dan sumber Informasi data lainnya yang dxgunakan sebagai bahan penyusunan kisah sejarah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X
Buka Chat
Perlu Penjelasan?
Hallo Siswa/i SMAN 1 Sinaboi?
Apa yg bisa kami Bantu ?